Promoting Waqf as a Lifestyle, Are You In?

Oxford dictionary defined lifestyle as the way in which a person lives. Each of us, of course, has our preference on our lifestyle. But as Muslims who wish for a life in Heaven, which lifestyle that we need to prioritise? Out of dozens of activities that we can do every day, some are beneficial some are not, it is within our choice. Then let’s do the meaningful only 🙂
Have you ever heard about this hadith?

Abu Hurairah narrated that Prophet Muhammad (peace and blessing be upon him) said,
“When a man dies, his good deeds come to an end except three: ongoing charity, beneficial knowledge, and righteous offspring who will pray for him.” (Muslim)

History acknowledged that the Companions of Rasulullah SAW and a lot of people in the past were motivated to give ongoing charity. We, as human beings, will never ever know when our death will come. Thus, giving ongoing charity can be one best way to accumulate our good deeds. An activity which is considered as part of ongoing charity is waqf. In the context of Indonesia, waqf is defined as “legal action of waqif to separate and/or give part his belongings, to be benefited forever or temporary for religious activity or prosperity within shariah lens”.

Some studies noted that in the past, waqf was able to contribute to the welfare of the society by providing many public services. Even the benefit of old waqf assets remain after hundred years, for example, the waqf from Ustman and University of Al Azhar in Cairo. Particularly in Indonesia, thousands of mosques that we are praying are mostly belonged to waqf assets. In nature, waqf needs to be managed in which enable its assets to be sustained, its benefit to be perpetual, and align with shariah principles.

If each of us is promoting waqf as a lifestyle or as a habit, imagine how much the good deeds can be accumulated and how powerful the Muslim can be. We can run a business to supply our daily needs, hence there is no need to depend on others. At the same time, more commercial activities and employment opportunity can be created. Later the return of the business investment can be used to build more public services within the country, especially for the needy. It can also be used to help other Muslims who are facing hard times in Palestine, Rohingya, and other countries. When waqf become a lifestyle for each of us, it can unlock the unlimited potential of ummat, in shaa Allah. So are you in?
Wallahua’lam

Oleh Lisa Listiana, SE, M.Ak (Founder Waqf Center for Indonesian Development and Studies)
@listianaica

Advertisements

Cara Mendapatkan Beasiswa untuk Studi Lanjut

Sahabat-sahabat, apakabar? Semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan-Nya. aamiin 🙂

Ohya, kali ini dalam #SerialStudiLanjut, saya akan menuliskan tentang bagaimana caranya mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi. Susah nggak sih dapet beasiswa?

Berdasarkan pengalaman pribadi, kalau menurut saya… “Sesusah apapun, kalau memang rezekinya, in shaa Allah bisa dapat. Yang penting adalah jangan lupa iringi ikhtiar maksimal kita dengan doa dan keyakinan…” 🙂

Nah, berikut ini ikhtiar-ikhtiar yang perlu kita lakukan, diantaranya …

  1. Rajin-rajin cari informasi beasiswa

Alhamdulillah teknologi saat ini memudahkan kita untuk mengumpulkan informasi seputar beasiswa. Ada beberapa website yang secara berkala menginformasikan seputar beasiswa, baik dalam dan luar negeri, diantaranya http://beasiswa.id/ dan http://www.info-beasiswa.id/. Selain website tersebut, saat ini umumnya penyelenggara beasiswa juga menyediakan informasi secara online yang dapat dengan mudah kita akses, sehingga kita pun dapat dengan mudah mencari informasi melalui website resmi penyelenggara beasiswa misalnya https://www.lpdp.kemenkeu.go.id/, https://www.aminef.or.id/, http://www.chevening.org/, http://www.australiaawardsindonesia.org/. Alternatif lain, kita juga bisa meng-explore website universitas tujuan kita. Setau saya, sebagian universitas menyediakan informasi seputar kesempatan beasiswa ataupun alternatif sponsor beasiswa apabila kita studi di universitas tersebut. Misalnya di universitas saya belajar saat ini, IIUM menyediakan informasi seputar alternatif bantuan keuangan dan sponsor potensial di halaman ini http://www.iium.edu.my/page/scholarship-and-financial-assistance.

Nah selain dari website, informasi beasiswa juga sebenarnya bisa kita dapatkan dari broadcast media sosial. Jangan segan bertanya kepada teman, kakak kelas, atau pun kerabat, karena bisa jadi mereka memiliki informasi beasiswa yang siap dibagi di handphone mereka 🙂

  1. Tentukan beasiswa yang ingin kita daftar

Dari sekian banyak kesempatan beasiswa yang ada, kita perlu menentukan beasiswa mana yang akan kita coba daftar. Tentu pilihan ini akan bervariasi setiap orang, mempertimbangkan universitas, lokasi, ataupun negara tujuan studi, cakupan beasiswa yang diberikan, tema prioritas pemberi beasiswa dan syarat dan ketentuan yang perlu kita penuhi. Hal ini penting kita lakukan karena bisa jadi ada beasiswa tertentu yang tidak bisa kita ikuti. Misalkan untuk para dosen yang sudah memiliki NIDN, tidak bisa mengajukan beasiswa reguler LPDP, Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI). Ada program beasiswa yang memang dikhususkan untuk dosen tetap, yaitu Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI).

  1. Persiapkan dan lengkapi persyaratan aplikasi beasiswa

Setelah kita menentukan beasiswa yang ingin kita daftar, segera persiapkan dan lengkapi persyaratan yang diperlukan. Saran saya, buatlah checklist untuk memudahkan dan mengingatkan kelengkapan dokumen dan catatlah tanggal-tanggal penting sehingga kita tidak terlewat. Jika kita ingin melanjutkan studi keluar negeri, biasanya salah satu dokumen yang perlu kita siapkan adalah sertifikat bahasa, baik dalam bentuk IELTS ataupun TOEFL. Bagi teman-teman yang belum pernah mengikuti tes, atau mungkin sudah pernah namun score-nya belum mencukupi, perhitungkan waktu tes dan kapan hasil tes akan keluar.

Dan yang terpenting sahabat2… Jangan lupa Allah. Iringi segala upaya kita tersebut dengan doa dan milikilah keyakinan kuat bahwa semua itu bisa dikabulkan oleh Allah. Dengan berserah diri/tawakkal kepada Allah, kita akan kuat untuk menghadapi segala macam hasil. Termasuk apabila gagal. Jangan bersedih hati kalau aplikasi beasiswa kita ditolak oleh salah satu penyedia beasiswa, karena masih banyak kesempatan lain yang bisa kita coba. Allah sudah takdirkan yang terbaik. Jangan putus asa dengan segala keterbatasan yang ada. Jika ada kemauan untuk belajar, in shaa Allah akan ada jalan.

Alhamdulilllah, Allah perkenankan saya mengeyam bangku pendidikan tinggi S1, S2, dan S3 dengan beasiswa penuh. Bukan karena kemampuan saya, namun semata-mata karena karunia dan izin Allah SWT. Maka mari senantiasa kita luruskan niat menuntut ilmu. Mengutip yang disampaikan Imam Asy Syafi’i, sesungguhnya Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.

Sampai sini dulu sharing kali ini, in shaa Allah kita sambung di tulisan-tulisan berikutnya. Semoga Allah mudahkan langkah kita untuk senantiasa menuntut ilmu, menjadi yang bermanfaat.

Salaam,
@listianaica

PS. Maaf lama absen menulis karena dunia saya teralihkan dengan penulisan proposal riset. Mohon doanya semoga sidang proposal mendatang lancar dan diberikan kemudahkan oleh Allah 🙂

Persiapan PhD Program

Dalam beberapa kesempatan, teman-teman ada yang menanyakan tentang serba-serbi #PhDProgram. Apa saja yang harus dipersiapkan? Bagaimana agar dapat beasiswa untuk melanjutkan studi? Dan bagaimana membagi waktu ketika studi lanjut dalam keadaan sudah berkeluarga? Maka in shaa Allah tulisan ini dan beberapa tulisan-tulisan lain sengaja saya buat untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, semoga bermanfat J

Saya akan memulai sharing dengan menuliskan tentang persiapan perlu dilakukan untuk mengambil #PhDProgram. Persiapan ini mungkin bisa juga menjadi referensi teman-teman yang hendak lanjut studi jenjang master, tentu dengan beberapa penyesuaian.

  1. Tentukan tema riset yang ingin diambil

Bagi saya pribadi, langkah ini adalah satu hal terpenting dan merupakan satu keunikan tersendiri dalam persiapan #PhDProgram. Kenapa? Karena umumnya ketika hendak lanjut studi S1 atau S2, kita tidak diharuskan membuat satu proposal penelitian. Sedangkan ketika kita berniat mendaftar #PhDProgram, kita harus menyiapkan satu proposal penelitian yang kurang lebih mendeskripsikan tentang riset yang akan kita lakukan. Pengalaman saya, mencari tema yang cocok dengan tujuan besar kita adalah yang paling menarik. Saya sangat tertarik untuk belajar dan mendalami tentang ekonomi, bisnis, dan keuangan Islam. Latar belakang saya akuntansi umum. Pengalaman kerja 4 tahun di perusahaan minyak dan gas. Dan akhirnya memutuskan mengambil tema riset tentang wakaf. Berkaitan tidak? Hehe. Tapi Alhamdulillah saya mantap menjalaninya. Setelah berbagai diskusi, semakin hari saya semakin yakin bahwa saya ingin belajar tentang wakaf. Jadi silahkan teman-teman tentukan tema riset yang ingin diambil. Bisa sesuatu yang sangat berkaitan dengan apa yang telah teman-teman pelajari di jenjang studi sebelumnya atau berkaitan dengan pengalaman praktik di dunia kerja. Namun tidak menutup kemungkinan memilih tema yang merupakan hal baru bagi kita.

Tentu saja harus diingat bahwa setiap keputusan melahirkan konsekuensi. Bagi saya, ketika saya memilih tema riset tentang wakaf, maka saya punya tugas untuk belajar sebelum kuliah. Saya harus belajar dan mengumpulkan bahan untuk penulisan proposal riset. Ketika itu saya mulai dari mana? Saya kumpulkan informasi seputar wakaf dari internet, saya kumpulkan bahan dan materi kuliah sebelumnya untuk referensi literatur, saya kontak beberapa teman yang masih ongoing kuliah untuk minta tolong dicarikan jurnal dan materi terkait wakaf, dan saya juga datang ke beberapa institusi terkait untuk mengumpulkan materi.

Alhamdulillah saat itu domisili saya di Jakarta dan kantor pusat beberapa institusi tersebut (baca: Badan Wakaf Indonesia, Kementrian Agara RI, dan mayoritas nadzir wakaf nasional) ada di kota ini. Jadilah dengan ditemani Pak suami @aharjunadhi, saya sampai di ketiga narasumber. Apa yang saya dapat dari ketiga tempat tersebut? Banyak, termasuk sharing dan setumpuk buku tentang wakaf.

Umumnya setiap lembaga akan menanyakan kepentingan kedatangan kita, jadi silahkan teman-teman sampaikan maksud dan tujuan dengan baik. Jika diperlukan teman-teman bisa membuat surat pengantar terlebih dahulu untuk menjelaskan hal tersebut. Meski prosedur di setiap institusi berbeda, in shaa Allah ada output yang bisa kita peroleh dari usaha ini. Ok, setelah mengumpulkan materi terkait lalu apa? Mulailah menulis dengan format umum dengan urutan seperti ketika kita membuat skripsi atau tesis, dimulai dengan pendahuluan, literatur, metodologi penelitian, dan referensi terkait.

  1. Cari calon supervisor dan universitas yang menawarkan program tersebut

Paralel dengan penulisan proposal riset, teman-teman bisa mulai mengumpulkan informasi tentang expert yang berpotensi menjadi calon supervisor dan universitas yang menawarkan program terkait tema riset kita. Alhamdulillah teknologi saat ini memudahkan kita untuk melakukan langkah ini. Waktu itu saya juga bertanya kepada beberapa teman dan kenalan yang sedang atau pernah belajar ekonomi, bisnis, dan keuangan Islam untuk mendapat sharing dan rekomendasi universitas. Pengalaman saya, kalau umumnya ketika studi S1 atau S2 kita mencari universitas yang mana yang paling keren dengan melihat peringkatnya di berbagai situs rangking, ketika mencari universitas untuk studi S3 #PhDProgram saya lebih fokus pada universitas mana yang menawarkan program yang terkait dengan tema riset saya. Dalam kasus saya, dengan serangkaian istikharah dan berbagai diskusi dan pertimbangan akhirnya berlabuhlah saya mendaftar #PhDProgram di IIUM Institute of Islamic Banking and Finance, International Islamic University Malaysia.

  1. Siapkan persyaratan pendaftaran

Setelah memilih calon universitas tujuan dan calon supervisor, segera siapkan dan lengkapi berkas pendaftaran. Setiap universitas memiliki jadwal dan persyaratan yang berbeda. Jadi ketika teman-teman memutuskan untuk mendaftar lebih dari satu universitas, silahkan pastikan kesesuaian dan kelengkapan dokumennya. Umumnya informasi dan pendaftaran dapat dilakukan secara online di website universitas.

Pengalaman saya, karena mendaftar universitas di luar Indonesia, mereka mensyaratkan dokumen dalam bahasa Inggris yang sudah dilegalisasi. Tak perlu khawatir karena umumnya universitas asal kita menyediakan jasa ini. Atau alternatif lainnya, teman-teman bisa menggunakan jasa penerjemah tersumpah dan notaris. Saya ada kontak provider jasa tersebut, silahkan PM jika ada yang memerlukan.

Sampai sini dulu sharing tentang persiapan #PhDProgram, in shaa Allah kita sambung di tulisan-tulisan berikutnya. Semoga Allah mudahkan langkah teman-teman untuk senantiasa menuntut ilmu.

Salaam,

@listianaica

di depan Fakultas Islamic Business & Finance, IIUM

Pendidikan Anak Dalam Islam

Berbicara tentang pengasuhan anak, ada banyak buku yang dapat kita baca, salah satunya adalah buku berjudul Tarbiyatul Aulad Fi Islam, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Pendidikan Anak dalam Islam karya Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan. Buku setebal 906 halaman ini menurut saya memberikan penjelasan komprehensif dengan sistematika yang runut terkait tema pendidikan anak.

Secara garis besar buku ini terbagi menjadi tiga bagian dengan beberapa pasal pada setiap bagiannya. Saya akan coba tuliskan rangkuman dari buku ini pasal demi pasal ya. Agar tidak terlalu panjang, saya akan bagi menjadi beberapa bagian. Dan tulisan ini adalah bagian pertama. Semoga bagi yang belum berkesempatan membaca buku ini, bisa turut mengambil hikmah dan pelajaranJ

Pasal pertama bagian pertama buku membahas tentang pernikahan ideal kaitannya dengan pendidikan. Pasal ini memaparkan pernikahan ditinjau dari tiga sisi, yaitu pernikahan sebagai fitrah manusia, pernikahan sebagai kemaslahatan sosial, dan pernikahan berdasarkan pilihan. Sebagai kemaslahatan sosial, pernikahan merupakan salah satu cara untuk melindungi kelangsungan hidup manusia, menjaga nasab, melindungi masyarakat dari berbaga penyakit dan kerusakan moral, memberikan ketentraman bagi jiwa dan rohani,  juga menumbuhkan naluri keibuan dan kebapakan.

Sebagai muslim/muslimah, panduan hidup kita (Quran dan Hadist) juga memberikan panduan dalam memilih calon pasangan, yaitu berdasarkan pondasi agamanya, berdasarkan keturunan dan kemuliannya. Kita juga diarahkan untuk memilih orang yang jauh dari hubungan kerabat, mengutamakan yang gadis, dan wanita subur. Berbagai kaidah ini semata-mata adalah untuk kebaikan kita yang menjalani.

Membaca pasal ini, saya pun teringat salah satu poin yang disampaikan oleh Ustadzah Erika sebagai salah satu narasumber di 1st Indonesia Mommy Talks, bahwa perkara memilih pasangan menjadi satu hal yang penting dalam Islam karena akan berpengaruh bukan hanya terhadap rumah tangga yang dibangun, namun juga pendidikan anak dan kualitas generasi yang lahir didalamnya. Tidak ada orang tua yang berharap memiliki anak yang durhaka kepada orang tuanya, namun tanpa sadar orang tua dapat berpotensi menjadi orang tua yang durhaka karena tidak memilih pasangan sesuai dengan yang Islam tuntunkan, sehingga hak-hak anak tidak terpenuhi. Anak berpotensi menjadi durhaka terhitung semenjak aqil baligh, sedangkan orang tua berpotensi menjadi orang tua durhaka semenjak mereka memilih pasangan hidupnya.

Maka semoga menjadi pengingat bersama bagi kita. Bagi yang belum menikah, agar memilih pasangan sesuai dengan yang Islam tuntunkan. Dan bagi yang sudah menikah, agar senantiasa bersyukur dengan pernikahan yang kita jalani. Ada kalanya dalam pernikahan, tidak semua hal sesuai dengan yang kita harapkan, pasangan tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Kalau kata Ust Subhan Bawazier, pilihanmu ujianmu. Dengan siapapun kita menikah, ada ujiannya. Ujian dan kondisi bagaimapun dalam pernikahan, semoga menjadi sarana bagi kita untuk senantiasa saling mengingatkan dan saling menguatkan dalam kebaikan, juga dalam proses mendekat kepadaNya. Aamiin.

#SeriPendidikanAnakDalamIslam

yang masih belajar,
@listianaica

Homemade Pempek Yummie

Salaam sahabat-sahabat, apa kabar? semoga sehat-sehat selalu. Udah lama banget ngga upload tulisan di web pribadi ini. Beberapa tulisan hanya sempat dipublish di web therealummi.com. Nanti pelan-pelan diupload juga di sini 🙂

Nah, untuk mengisi waktu sambil momong si kecil jagoan, biasanya saya juga coba-coba masakan. Ini dia, salah satu makanan kesukaan saya sejak jomblo dulu dan sekarang ternyata dapat suami yang juga suka.. mungkin karena ini kita berjodoh, lho.. hehe.. Yak, makanan ini aslinya Palembang, dan ternyata cara buatnya tak sulit lho..

Menu ini bisa jadi salah satu menu pengganti nasi, karena komposisinya lengkap untuk kebutuhan tubuh kita. Yuk cobain resepnya..

BAHAN:

  1. Ikan tengiri 250 gram
  2. 5 siung bawang putih
  3. Tepung tapioka 100 gram
  4. Tepung terigu 50 gram
  5. 1 Butir telur (dan telur tambahan untuk isi)
  6. Telur puyuh atau Gula pasir sesuai selera
  7. Garam sesuai selera
  8. Gula pasir sesuai selera
  9. Minyak goreng
  10. Air secukupnya
  11. Asam Jawa
  12. Gula Jawa
  13. Timun

RESEP :

  1. Cuci bersih ikan tengiri, ambil dagingnya dan tiriskan
  2. Haluskan 3 siung bawang putih yang sudah digoreng, tambahkan garam (bumbu halus)
  3. Campurkan tepung tapioka, tepung terigu, bumbu halus, telur, ikan tengiri, dan air. Uleni hingga kalis
  4. Bentuk sesuai adonan. Umumnya bentuk kapal selam dengan diisi telur atau lenjer
  5. Didihkan air dalam panci, maksukkan adonan yang sudah dibentuk hingga terapung (matang). Tiriskan dan goreng.
  6. Kuah Pempek (cuko): Parut bawang putih, tambahkan air, gula jawa, asam jawa, garam dan rebus hingga mendidih. Saring.
  7. Tara… “Homemade Pempek Yummie” siap disajikan bersama irisan timun segar.

Mudah kah.. Selamat mencoba 🙂

 

Menapaki Fitrah

Pernyataan yang seolah terasa benar dan bijak, tak selalu “benar-benar” benar dan bijak. Contohnya pernyataan dibawah ini. Sounds good? Is there something wrong?

sumber: info viral

sumber: info viral

Saya melihat poster ini di share berulang kali oleh beberapa teman di FB beberapa hari ini, sehingga muncul di home saya. Sekilas dibaca, saya merasa kok ada yang mengganjal ya… Jadilah saya coba simpan di memori HP. Saya coba baca beberapa kali, mencoba memahami maksud pernyataannya.

Ibu yang baik adalah ibu yang bahagia, menerima dirinya apa adanya, menjadi versi yang terbaik dari dirinya sendiri. Dan mengasuh anak-anaknya dengan bahagia, tanpa penghakiman dan ego bahwa dia ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga.

Ibu yang baik adalah ibu yang bahagia… Baik dan bahagia, menurut siapa?

…tanpa penghakiman dan ego bahwa dia ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga. Benar dan bijak, menurut siapa?

Islam mengajari kita untuk menjadi baik dan bahagia, menjadi benar dan bijak.

Menjadi ibu yang baik dan bahagia, menjadi ibu yang benar dan bijak sesuai dengan kaidah dan prinsip dalam Islam.

Menjadi ibu yang baik dan bahagia, menjadi ibu yang benar dan bijak sebagaimana mestinya dengan menjalani fitrah kita sebagai seorang ibu.

Dan dalam fitrah kita sebagai ibu (dan istri), ada kewajiban dan hak yang harus kita tunaikan semaksimal dan semampu yang kita bisa (Lihat QS. At Taghobun [64]: 16).

Semaksimal dan semampu kita, sehingga Islam pun mengajari kita untuk tak membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang lain, tak membandingkan kesanggupan kita dengan kesanggupan orang lain.

Ada ibu yang berkesempatan melahirkan normal, ada yang harus melahirkan secara caesar dengan berbagai kondisinya.

Ada ibu yang berkesempatan memberikan ASI eksklusif, ada yang harus menambahkan sufor dengan berbagai kondisinya.

Ada ibu yang berkesempatan mengasuh sendiri anak-anaknya, ada yang memerlukan bantuan orang lain untuk mengasuh anak dengan berbagai kondisinya.

Maka yang paling penting bukan sekedar menjadi ibu baik yang bahagia dengan cara menerima dirinya apa adanya, menjadi versi yang terbaik dari dirinya sendiri, tanpa penghakiman dan ego menjadi ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga. Yang paling penting adalah kita menunaikan kewajiban dan hak kita sebagai seorang ibu (dan istri), menjalankan fitrah semaksimal dan semampu yang kita bisa. Allah yang ciptakan kita, Allah yang berikan rule nya, Allah yang paling tau. Jadi yuk para ibu kita tapaki fitrah kita, in shaa Allah baik bahagia benar bijak akan mengikuti.

Salam hangat Ummi,
@listianaica

 

Ketika Terjadi Perubahan Fisik pada Si Kecil

Pada usia awal pertumbuhan (saat ini anak saya alhamdulillah sudah 13 bulan), banyak perubahan fisik yang terjadi. Banyak hal dulu mungkin tidak begitu perhatikan, namun saat menjadi ibu these things are matters for us. Seperti misalnya perubahan berat badan bayi, perubahan tinggi badan bayi, berapa kali bayi menyusu dalam sehari, berapa kali bayi buang air dalam sehari, dan banyak hal lainnya.

Selama 13 bulan, tak terhitung berapa kali badan Alfath tiba-tiba hangat, kadang panas, nanti turun sendiri. Hampir setiap fase perkembangan fisik Alfath diikuti gejala yang seringkali membuat saya sebagai ibu baru khawatir. Misalnya mau tumbuh gigi, badan hangat. Mau bertambah skills tertentu, badan juga hangat. Atau kadang mendadak badan anak merah-merah, nanti hilang sendiri. Alhasil saya jadi paham, ketika suatu hari salah satu ibu yang membesuk ketika Alfath lahiran, berpesan kalau ada perubahan fisik pada anak, misalnya badan hangat atau flu atau demam, jangan langsung panik. Ada kalanya kita tak perlu langsung ke dokter ketika terjadi perubahan pada fisik anak.

Dari sedikit pengalaman selama ini, menurut saya yang perlu kita lakukan adalah mengobservasi kondisi anak ketika terjadi perubahan fisik. Nah untuk membantu kita melakukan hal ini, ada beberapa alat bantu yang perlu kita siapkan. Beberapa diantaranya adalah termometer tubuh untuk memonitor perubahan suhu tubuh anak ketika badan anak mendadak terasa hangat, timbangan badan untuk memonitor perubahan berat badan anak, meteran untuk memonitor tinggi badan anak, minyak zaitun untuk pertolongan pertama jika terjadi sesuatu dengan kulit anak.

Lalu karena saya tipe ibu baru yang berusaha meminimalisir penggunaan obat kimia pada anak, saya selalu sedia beberapa obat-obatan herbal dirumah seperti madu, habbatussauda, antibiotik herbal, kurma, juga beberapa tumbuhan apotik hidup seperti bawang merah, kencur, kunyit, temulawak, jahe, dan beberapa lainnya. Sebagai tips untuk para ibu yang tinggal di kota, yang mungkin cukup kesulitan menemukan beberapa tumbuhan apotik hidup, mungkin bisa minta bantuan kepada orang tua di kampung halaman. In shaa Allah beliau akan dengan senang hati membawakan atau mengirimkan apotik hidup yang kita perlukan untuk si kecil.

Oh ya, just in case panas anak cukup tinggi dan metode tradisional (baca: balurin parutan bawang merah dan kencur, ditambah minyak zaitun dan minyak telon ke badan anak) belum berhasil menurunkan panas tubuh anak, ada baiknya juga kita sedia paracetamol drops yang memang khusus untuk bayi. Dan yang terpenting ketika terjadi perubahan fisik pada anak, meskipun kita khawatir, usahakan jangan panik ya ummi:)

Salam Ummies
@listianaica

Prolog

Alhamdulillahhi Rabbil Alamin…

Website www.therealummi.com is ready.

Big thanks to my beloved Mas @agastyaharjuna, untuk inspirasi dan dukungannya. Segala macam beliau support, lahir batin jiwa raga, hehe. Termasuk membantu mengemas package desain, all branding kits are made by him. Big thanks jugak to my beloved sister @ririn.caterin, front end developer yang ga cuma cantik, tapi juga pinter masak. This website is brought to us para ummies by her.

Semoga melalui website ini akan tertuai banyak kebaikan,

Menjadi sarana berbagi hikmah dan inspirasi,

Menjadi media pengingat diri dan penguat hati,

Untuk menjadi Madrasah Peradaban Sejati. 🙂

 

Disclaimer:

Tulisan dan informasi yang ada di website ini berasal dari berbagai sumber, termasuk pengalaman dan pendapat pribadi. Tidak menutup kemungkinan, beberapa hal perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pembaca. Advice is welcome 🙂

Salam hangat,
Ummi Alfath @listianaica